Setiap Hujan Turun Tiga Dusun di Sumberejo Kaliwungu Jadi Langganan Banjir, Apa Penyebabnya?

BOSTHOMSON,KENDAL – Penambangan galian C disinyalir menjadi penyebab utama sering terjadinya banjir di Desa Sumberejo Kaliwungu Kabupaten Kendal.

Banjir terjadi hampir setiap kali hujan turun akibat luapan sungai yang melanda sekitar 2.000 rumah di tiga dukuh, meliputi Dukuh Mlaten, Dukuh Gambiran, Dukuh Suking dan sebagian Dukuh Gambilangu.

Kepala Desa Sumberejo, Ngatman mengatakan, desanya sering terjadi banjir sejak lima tahun terakhir.

“Setiap hujan deras lebih dari satu jam hampir dipastikan terjadi banjir akibat sungai meluap. Kondisi sungai dangkal akibat sedimentasi karena adanya penambangan galian C,” terangnya, Rabu (24/11/2021).

Kepala Desa Sumberejo Kecamatan Kaliwungu, Ngatman
Kepala Desa Sumberejo Kecamatan Kaliwungu, Ngatman

Ngatman menjelaskan, adanya penambangan galian C tersebut, lahan yang semula berupa hutan berubah menjadi lahan kosong.

“Di Dukuh Suking dan Dukuh Duwet saja ada tujuh titik galian C,” jelas Kades Sumberejo.

Ngatman mengungkapkan, sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan pihak penambang yang bersedia melakukan normalisasi sungai dua kali dalam setahun.

“Tapi faktanya itu tidak pernah dilakukan. Selain itu, bekas galian dibiarkan begitu saja, tanpa dikembalikan seperti semula, atau dengan melakukan penghijauan. Kalau hujan sekali saja, sungai yang sudah dinormalisasi langsung dangkal,” ungkapnya.

Ngatman berharap kepada Pemkab Kendal memperketat pengawasan kegiatan penambangan galian C.

Selain itu segera dilakukan penghijauan kembali lahan bekas penambangan galian C. 

“Harus ada ketegasan jika selesai penambangan harus segera ditanami lagi seperti semula biar tanah tidak tandus. Selain itu bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan yang paling penting bisa untuk peresapan lagi,” tandas Ngatman. 

Sementara itu, Bupati Kendal Dico M Ganinduto menanggapi hal tersebut mengatakan, akan menyelesaikan satu persatu untuk penanganan banjir ini perlu waktu dan perlu berkolaborasi, di antaranya melakukan normalisasi sungai.

“Terlebih dahulu, kita akan menertibkan bangunan liar yang berada di bantaran sungai, sebab akan menghalangi saat proses normalisasi sungai, dengan semua pihak, khususnya masyarakat,” ujarnya.

Menurut Dico, untuk penambangan galian C harus dipastikan sesuai aturan, dan bersedia membuat drainase.

Pihak penambang juga harus mengeluarkan CSR untuk membantu penanganan banjir di Kaliwungu. Sedangkan untuk penertiban bangunan liar, tentunya harus relokasi dulu.

“Sebelum dilakukan normalisasi sungai tersebut. Mungkin perlu juga membuat embung untuk mengatur debit air, namun akan dikaji dulu,” pungkasnya. (Hans).