Jadi Binaan Bank Indonesia, Kopi “Bagor Mas” Desa Kalibogor Sukorejo Siap Mendunia

BOSTHOMSON, KENDAL – Bagi pecinta kopi, atau yang sedang kepikiran untuk menjalankan usaha kedai kopi, tentu sudah tahu bagaimana pengolahan biji kopi sehingga jadi bubuk yang siap untuk dikonsumsi. Proses tersebut rupanya cukup panjang.

Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengolah biji kopi menjadi bubuk.

Yakni cara kering atau cara basah, pengolahan biji kopi dengan cara basah biasanya membutuhkan proses dan tahapan yang cukup panjang.

Pengolahan dengan cara basah juga biasa dilakukan untuk mengolah biji kopi arabika, sehingga enggak heran kalau biji kopi yang diolah dengan teknik basah ini juga dihargai cukup tinggi.

Sedangkan biji kopi robusta lebih sering diolah dengan cara kering. Pengolahan dengan cara kering tidak membutuhkan waktu yang lama dan tahap-tahap yang dilalui tidak sepanjang teknik basah.

Oleh karena itu kopi robusta atau biji kopi lain yang diolah dengan cara kering punya harga yang cukup terjangkau daripada biji kopi arabika.

Kopi bubuk Bagor Mas, binaan Bank Indonesia
Kopi bubuk Bagor Mas, binaan Bank Indonesia

Hal itulah yang disampaikan Taufiqul Mujab, Kepala Desa Kalibogor Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, saat dikunjungi bosthomsonkendal.com di kediamannya, Rabu sore (27/10/2021).

Desa Kalibogor merupakan salah satu desa yang terletak di wiilayah pegunungan Kecamatan Sukorejo berjarak 3 Km dari ibu kota kecamatan Sukorejo atau 27 Km dari ibu kota Kabupaten Kendal.

Desa Kalibogor memiliki luas wilayah 1832,55 m² yang terbagi menjadi 2 dusun, dengan masing-masing dibagi menjadi 3 RW dan 13 RT.

Saat ini Kades yang akrab disapa Gus Mujab sedang berfikir keras untuk memajukan ekonomi desanya dengan mengolah dan memproduksi serbuk kopi.

Dari hasil pertanian kopi di desanya tersebut, dirinya juga ingin mengangkat kopi menjadi komoditi andalan Kabupaten Kendal.

Akhirnya, Gus Mujab pun membangun industri kopi bubuk di rumahnya. Dari mengolah biji kopi meracik hingga memberikan kemasan.

Namun karena keterbatasan alat produksi dimana saat ini baru ada mesin sangrai dan kemasan, sehingga untuk membuat serbuk kopi, para petani dan warga harus antri di rumahnya.

Menurut Gus Mujab disinilah peran para petani sebagai penghasil biji kopi hingga barista, sebagai peracik menjadi kunci penting di era ini.

Dari situlah, ia kemudian memproduksi kopi bubuk yang dimasukkan bungkus plastis tertutup dengan mesin kemasan plastik yang ia beri label “Bagor Mas”.

Kopi bubuk Bagor Mas memiliki tiga jenis, antara lain berasal dari kopi Arabika, kopi Robusta dan kopi Liberika.
Ketiga jenis kopi ini saat ini menjadi sajian minuman kopi untuk para tamu hotel, restoran dan cafe.

Usaha Gus Mujab pun tak sia-sia, Bank Indonesia (BI) pun merangkulnya sebagai UMKM Binaan.

“Saya pun mendapatkan bantuan berupa satu set mesin dari BI, untuk mengembangkan UMKM. Selain itu, Desa Kalibogor dijadikan desa perintisan dalam membangun industri kopi,” ujarnya.

Untuk itulah, Gus Mujab merangkul BUMDes yang digunakan sebagai payung hukum dalam membangun industri pengolahan kopi hasil dari pertanian kopi setempat dan memasarkan hasil kopi setempat.

“Selain itu, bertujuan untuk meng-kopikan masyarakat setempat yang biasanya mengkonsumsi kopi instan sasetan, juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Kini masyarakatpun mulai tertarik menikmati rasa dan aroma kopi asli dari para petani kopi Sukorejo,” imbuhnya.

Saat ini dalam memproduksi kopi bubuk kemasan, Gus Mujab baru bisa mencetak kemasan berisi 150 gram dan 1 kg kopi bubuk Bagor Mas.

Menurutnya, kemasan berisi 150 gram jenis kopi Arabika harga Rp. 30.000, kopi Liberika Rp. 25.000 dan kopi Robusta Rp.15.000

“Sedangkan untuk pemasarannya, kopi Bagor Mas dipasarkan melalui online maupun disebarluaskan di hotel-hotel dan cafe di sekitar Sukorejo dan sekitarnya,” jelasnya.

Penyerahan bantuan peralatan dari Bank Indonesia kepada Pemdes Kalibogor dan BUMDes Bangkit Mandiri
Penyerahan bantuan peralatan dari Bank Indonesia kepada Pemdes Kalibogor dan BUMDes Bangkit Mandiri

Sementara itu, Direktur BUMDes Bangkit Mandiri Desa Kalibogor, Toha mengatakan, saat ini produk kopi UMKM desanya sudah bermitra dengan beberapa kafe. Salah satunya adalah stok paten mitra dari Salatiga.

“BUMDes Bangkit Mandiri juga bernitra dengan para petani dalam hal produksi dan pengolahan bubuk KUB Petani kopi bangkit mandiri. Selain itu juga pengelolaan hasil pasca panen, yang berasnya disetor ke BUMDes,” terangnya.

Saat berada di kediaman Gus Mujab, bosthomsonkendal.com pun mencoba beberapa kopi racikannya. Dari kopi robusta, kopi liberika yang beraroma nangka, hingga kopi wine dan juga kopi kulit biji yang konon bermanfaat untuk kesehatan. (Win).