Anjoknya Harga Bawang Merah, Dikeluhkan Petani di Kendal

BOSTHOMSON KENDAL – Petani Bawang Merah di Kabupaten Kendal kebingungan. Meskipun dengan kualitas bagus, namun harga bawang merah basah di tingkat petani hanya dihargai Rp 9.000 per kilogram. Bahkan ada yang cuma dihargai Rp 8.000 per kilogram.

Hal itu disampaikan salah seorang petani bawang merah di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringiarum, Muhti mengungkapkan, hasil panen bawang merah kali ini cukup bagus.

Menurutnya, rata-rata bisa panen bawang merah kualitas super jika dipanen cukup umur.

Muhti berharap, pemerintah bisa memberikan solusi atas siklus anjlognya harga barang merah setiap panen raya. Minimal menambah stok pupuk subsidi untuk meringankan biaya produksi. Karena harga bawang merah saat ini tidak mendukung perekonomian petani.

“Hasil bawangnya memang bagus. Tapi ya itu harganya anjlog. Hanya di angka Rp 8.000 – Rp 9.000 per kilogram. Kami memilih pasrah dengan tetap menjual hasil panen. Sebagian hasil panen juga kami pergunakan, untul bibit tanam akan datang,” ungkapnya, Sabtu (11/12/2021).

Muhti menambahkan, siklus tahunan yang terjadi setiap panen raya ini bisa dicarikan solusi oleh pemerintah. Sehingga beban petani bawang merah jadi lebih ringan.

“Belum lagi, kami harus membeli bibit bawang merah untuk tanam di musim setelahnya. Yang jelas, biaya produksi tanam bawang merah sangat tinggi, semua mahal. Jika dihitung, minimal harga jual Rp 15.000 per kilogram biar gak rugi. Kalau mau untung sedikit, harga jual harusnya Rp 20.000 per kilogram,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Budiyono mengatakan, anjlognya harga bawang merah, bukan pengaruh dari musim penghujan.

“Mayoritas petani di desa kami, utamanya adalah petani bawang merah. Kalau pas musim seperti ini, dengan anjloknya harga, jadi kasihan,”  ujarnya.

Budiyono juga mengaku, tidak mengetahui pasti penyebab turunnya harga jual bawang merah di bawah Rp 10.000 per kilogram.

“Biasanya harga tertahan di angka Rp 10.000 – Rp 11.000 per kilogramnya. Dengan jaminan kualitas bawang merah tetap bagus dan besar;” imbuhnya.

Budiyono berharap, pemerintah daerah hingga pusat agar memperhatikan betul kesejahteraan para petani, termasuk petani bawang merah yang tersebar di beberapa daerah.

Karena menurutnya, biaya menanam bawang merah ini mahal. Bahkan para petani sampai menggadaikan BPKB sebagai jaminan.

“Kalau hasil penen turun drastis, bisa-bisa hilang barang berharganya. Karena semua penunjang tanaman bawang merah serba mahal. Jadi kami berharap, pemerintah bisa memberikan solusi hal ini,” pungkas Budiyono. (Hans).