Warga Desa sidomulyo berebut Gunungantradisi Mangsa Labuh, Jumat(09/03/2021)

Ratusan Warga Desa Sidomulyo Cepiring Berebut Gunungan Mangsa Labuh

KENDAL – Ratusan warga Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal  menggelar Kirab Gunungan Mangsa Labuh guna menyambut musim tanam kedua yang rutin dilaksanakan warga setiap enam bulan sekali.

Tradisi gunungan yang tebuat dari berbagai Hasil Bumi seperti sayur-sayuran serta buah-buahan tersebut sudah dilaksanakan sejak lama oleh warga Desa Sidomulyo yang mayoritas adalah Petani .

Gunungan selanjutnya diarak dari Kantor Kepala Desa Sidomulyo menuju Barak petani yang lokasinya berada ditengah sawah. Sesampainya di tempat tasyakuran kemudian disambut oleh para petani dan warga yang telah menunggu. Sebagian dari mereka membawa makanan sendiri-sendiri dan dikumpulkan jadi satu, kemudian diletakkan menjadi satu diatas daun pisang untuk dimakan bersama-sama. Setelah acara Doa bersamaselesai kemudian wargapun berebut Gunungan

Kepala Desa Sidomulyo, Retno Yuli Fitriani mengatakan tradisi ini sudah dilakukan sejak lama dan turun-temurun, warga yang ikut dalam tradisi itu hanya perwakilan petani minimal 1 orang dalam keluarga.

“Jadi ini sudah dilakukan sejak zaman dulu di Brak Petani, kalau soal gunungan ini baru, kita berkolaborasi dengan Sanggar Kebudayaan Kejeling, termasuk tari-tariannya,”ujar Retno..

Retno menambahkan tujuan dilakukan tradisi kirab gunungan adalah sebagai ungkapan rasa syukur petani atas hasil panen tanaman, serta memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam musim tanam yang akan dilakukan. Sebelum melakukan kirab, petani di desanya sudah diberitahukan minimal 1 pekan sebelum pelaksanaan.

“Kebetulan kali ini bertepatan pada Jumat Kliwon. Kalau waktu memang tidak pasti, menyusaikan. Tentunya kita berharap agar kebudayaan ini tetap berjalan dan berkembang sebagai bentuk nguri-uri budaya warisan nenek moyang,”katanya.

Sementara itu salah satu warga Desa Sidomulyo, Junaidah yang ikut berebut gunungan mengaku jika ia bisa mengambil salah satu dari hasil bumi maka diyakini nantinya akan mendapatkan berkah.

“ Iya saya ngambil beberapa sayuran, nanti saya bawa pulang dan dimasak untuk dimakan bersama keluarga agar berkah”,ujar Junaidah.

Selain kirab gunungan juga dibagikan bibit padi yang telah dicampur untuk ditanam. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur para petani dan berharap hasil tanaman petani bisa terhindar dari segala macam hama dan penyakit sehingga hasilnya bisa melimpah.

Selain itu, berkumpulnya para petani tiap 6 bulanan itu dimaksudkan untuk mempererat petani Sidomulyo agar kompak dalam bercocok tanam. Petani mengikuti doa bersama dan berembuk terkait kapan jadwal sebar benih dan tanam bibit padi agar bisa dilakukan serentak setiap musimnya.(Win)